PIRC- Kultur Ilmiah di FKM Masih Sangat Kurang

Oleh : Nissa Noor Annashr (KaDiv Education PIRC FKM Undip)

Berbicara soal dunia pendidikan, maka universitas atau kampus
merupakan suatu hal yang tidak akan pernah terlupakan eksistensinya. Kampus
yang notabene merupakan sarana akademik sebagai tempat untuk menuntut
ilmu para mahasiswa, seharusnya dapat “diciptakan” sedemikian rupa sehingga
dapat memberikan atmosfer yang berbeda dengan tempat-tempat lain ketika
kita berada di dalamnya. Dalam hal ini, diharapkan tercipta kultur ilmiah yang
baik. Tentu saja karena kampus merupakan tempat beraktivitas para intelektual
muda yang memiliki segudang ide, gagasan, asa dan cita. Mahasiswa ”yang
disebut-sebut” memiliki pola pikir ilmiah merupakan aset atau modal utama
untuk menciptakan kultur ilmiah di kampus, serta didukung oleh faktor-faktor lain
seperti dosen dan sarana-prasarana yang memadai. Mengapa demikian? Hal
ini karena pembentukan kultur ilmiah di kampus tidak menitikberatkan pada
pembangunan fisik kampus (sarana-prasana), tetapi terletak pada kemampuan
mahasiswa sendiri dalam menerapkan pola pikir ilmiah di kampus. Akan tetapi
realitanya, kultur ilmiah di FKM sendiri masih sangat kurang.
Hal ini dapat saya rasakan sendiri selaku mahasiswi FKM. Tidak ada
perubahan yang signifikan saat saya pertama kali menjadi mahasiswi FKM
tahun 20007 hingga saat ini menduduki semester 4. Kultur ilmiah di FKM masih
sangat kurang. Hal ini dapat diindikasikan dengan masih minimnya minat
mahasiswa untuk mengikuti event-event atau kompetisi-kompetisi karya tulis
ilmiah, salah satu contohnya adalah PKM (Program Kreativitas Mahasiswa).
Fenomena tersebut disebabkan oleh minimnya pengetahuan dan pemahaman
mahasiswa tentang event-event atau kompetisi karya tulis ilmiah, baik dari segi
internal mahasiswa, seperti kurangnya pengetahuan dan kemampuan dalam
penulisan (membuat) karya tulis, maupun dari segi eksternal yaitu kurangnya
publikasi tentang pelaksanaan kompetisi tersebut.
Setelah saya analisis lebih lanjut, sesungguhnya faktor paling
fundamental yang menyebabkan fenomena ini dapat terjadi yaitu karena
”keenggananan” mahasiswa itu sendiri atau adanya sikap apatis para
mahasiswa terhadap segala informasi yang berkaitan dengan kompetisi karya
ilmiah. Indikator selanjutnya yaitu hanya sedikit sekali mahasiswa yang memiliki
inisiatif untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pelatihan karya tulis ilmiah yang telah
difasilitasi UKK Penalaran Imiah Research Club. Selain itu, pihak dosen
sebetulnya memiliki andil yang besar pula dalam menciptakan kultur ilmiah di
kampus FKM. Sayangnya, hanya sedikit dosen yang mendukung kegiatan
mahasiswa di bidang ilmiah tersebut.

Explore posts in the same categories: EDISI I/TAHUN IV/MARET 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: