Dasar – Dasar Desain

Desain dalam publikasi berarti menciptakan dan menyampaikan suatu makna. Untuk menyampaikan pesan, kita dapat menggunakan dan mengkombinasikan unsur–unsur bentuk, struktur, dan kreativitas. Nah, bagaimanakah cara melakukannya? Yaitu dengan menciptakan suatu desain dan mengorganisasikan / mengatur isi yang menarik secara visual, menyatukan, dan kemudian menyajikannya kepada target audiens.

One Desireable Outcome : Design that Works

Pernahkah anda mengalami kesulitan saat membaca suatu menu, program, atau poster? Kadang–kadang materi yang telah tercetak yang sengaja dibuat untuk membuat lebih mudah malah membuat kesulitan karena elemen–elemen dalam desain grafis ditempatkan dalam halaman secara seenaknya.
Jika kita ingin menciptakan desain yang berhasil, minimal kita harus mengikuti empat prinsip dasar desain yaitu : proximity, alignment, repetisi, dan kontras.
Marilah sekarang kita lihat lebih jauh empat prinsip tersebut untuk mengetahui mengapa mereka sangat penting dalam suatu proses desain.

Prinsip 1 : Proximity

Pernahkah anda melihat desain dengan teks dan grafis yang terlihat seolah–tidak menyatu? Kata–kata dan gambar–gambar muncul tersebar dan tidak berkaitan, sehingga menghasilkan desain yang “anarkis”.
Prinsip proximity mengharuskan komponen–komponen yang saling berhubungan dikelompokkan bersama untuk membentuk unit yang kohesif. Dengan menggunakan prinsip ini, dapat mengurangi kekacauan dan meningkatkan kejelasan dari pesan yang ingin disampaikan.

Prinsip 2 : Alignment

Setiap elemen dalam suatu halaman seharusnya memiliki hubungan dengan elemen lain untuk menjamin kehalusan dan kemudahan pembacaan. Alignment menciptakan karya yang bersih dan rapi sehingga mengarahkan perhatian ke pesan kunci dan membantu menghubungan elemen grafis yang lain secara visual.
Suatu elemen kunci bertindak sebagai titik acuan elemen lain untuk mensejajarkan diri. Saat menambah elemen baru ke dalam layout, sejajarkan elemen tersebut dengan yang lain menggunakan garis bayangan, seperti

gambar berikut ini.

Prinsip 3 : Repetisi

Adalah suatu hal yang wajar bagi manusia untuk melihat, mendengar, dan melakukan sesuatu lagi dan lagi sehingga timbul suatu dampak tertentu baginya. Begitu pula dalam desain grafis.
Repetisi/pengulangan elemen desain visual seperti warna, bentuk, tekstur, garis, dan bullet dapat membantu memperkuat pesan yang penting. Repetisi mampu menjaga konten tetap dalam satu kesatuan, terorganisasi, dan menarik secara visual, sehingga menarik untuk dibaca.
Yang perlu diperhatikan dalam prinsip repetisi : hati–hati untuk tidak terlalu berlebihan. Repetisi yang berulang terlalu sering dapat mengacaukan halaman dan membuat pesan sulit dipahami. Saat ragu–ragu, buatlah desain secara simpel.

Repetisi seperti lingkaran, warna, dan jenis font membantu untuk menyatukan suatu desain saat kita kekurangan ide kreatif.

Prinsip 4 : Kontras

Pernahkah anda membaca suatu materi yang membuat bertanya–tanya “Apa sebenarnya yang ingin dikomunikasikan materi ini?” Kebingungan dapat terjadi karena adanya konflik dalam tiap elemen–elemennya, semuanya seperti memperrebutkan perhatian anda, dan tiap–tiap elemen memiliki ukuran yang sama besar dalam halaman. Untuk mengatasi hal ini, soroti elemen paling penting untuk mengkontraskannya dengan elemen yang lain.
Penggunaan kontras penting untuk membedakan elemen–elemen dan mengorganisasikannya secara hirarkis dalam desain. Dengan mengkontraskan warna, ukuran, tekstur, atau jenis font, anda dapat membuat kesan yang kuat dalam pesan tersebut dan menarik perhatian ke pesan kunci. Untuk membuat desain yang efektif, jangan hanya membuat perbedaan yang sedikit. Buatlah elemen desain yang berbeda 180 derajat.

Jenis font yang besar kontras dengan bagian tubuh teks. Dan foto yang lebih besar kontras dengan foto yang lebih kecil. Elemen–elemennya berbeda dan saling berhubungan, dan perbedaan membuat ketertarikan visual.

Jenis Font

Memilih jenis dan ukuran font yang tepat sangat penting dalam keberhasilan komunikasi visual. Setiap jenis font memiliki kepribadiannya masing–masing, dan jenis font yang dipilih harus menggambarkan pesan dan penekanan yang ingin disampaikan.
Jika font terlalu kecil, pembaca mungkin memutuskan bahwa bacaan tersebut tidak layak dibaca karena membutuhkan daya yang besar untuk membacanya. Jika kita menggunakan terlalu banyak penebalan (bold), penggarisan (underlining), atau KAPITAL, maka kita akan membuat terlalu banyak elemen yang saling memperebutkan perhatian kita, dan pesan yang ingin disampaikan mungkin akan hilang. Penggunaan jenis font yang terlalu banyak dapat merusak desain yang sedang kita kerjakan.

Itulah sedikit bahasan mengenai dasar desain grafis. Are you ready to put them into practice?

Explore posts in the same categories: 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: