Berita Kesehatan

Fenomena Flu Singapore
Istilah “Flu Singapore” dalam dunia kedokteran dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut (PTKM). Istilah Flu Singapore muncul karena pada saat itu terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) dan kematian akibat sebuah penyakit di Singapura. Karena gejalanya mirip flu, dan saat itu terjadi di Singapura, banyak media cetak yang membuat istilah flu Singapore walaupun hal ini bukanlah terminologi yang baku. Penyakit ini sebenarnya sudah lama ada di dunia. Berdasarkan laporan yang ada, KLB penyakit ini sudah ada di tahun 1957 di Toronto, Kanada. Sejak itu terdapat banyak kejadian di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, kasus Flu Singapore pernah ditemukan di Depok dan Bekasi pada bulan Februari 2009 lalu.
Flu Singapore merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang termasuk dalam famili Picornaviridae (Pico, Spanyol = kecil), genus Enterovirus (non Polio). Genus yang lain adalah Rhinovirus, Cardiovirus, Apthovirus. Di dalam genus Enterovirus terdiri dari Coxsackie A virus, Coxsackie B virus, Echovirus dan Enterovirus. Flu Singapore sering terjadi pada kelompok masyarakat yang padat dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun (kadang sampai 10 tahun). Pada umumnya, orang dewasa lebih kebal terhadap Enterovirus daripada anak-anak.
“Daya tahan tubuh individu yang tinggi akan mencegah penularan penyakit flu Singapore. Biasanya dokter memberikan antibiotik kepada pasiennya untuk mencegah infeksi sekunder. Pada saat mukosa terinfeksi, bakteri akan mudah masuk melalui mulut. Oleh karena itu, diperlukan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder,” ungkap Bu Praba, salah satu dosen Epidemiologi FKM Undip yang menceritakan pengalaman beliau dalam menangani putranya yang pernah terinfeksi penyakit Flu Singapore. Penularan penyakit PKTM ini melalui jalur fekal-oral (pencernaan) dan saluran pernapasan, yaitu dari droplet (butiran ludah), pilek, air liur, tinja, cairan vesikel (kelainan kulit berupa gelembung kecil berisi cairan) atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada carrier (pembawa) seperti lalat dan kecoa. Masa inkubasi penyakit ini adalah 2 – 5 hari.
Gejala penyakit flu Singapore hampir sama dengan gejala flu biasa, tetapi ada perbedaan yang signifikan. Gejala penyakit Flu Singapore dimulai dengan demam tidak tinggi selama 2-3 hari, lalu diikuti sakit leher (faringitis), tidak ada nafsu makan, pilek, dan gejala seperti flu. Penularan penyakit ini hampir sama dengan cacar air, yaitu timbul vesikel yang kemudian pecah, lalu ada 3-10 ulkus di mulut seperti sariawan (lidah, gusi, pipi sebelah dalam)terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan). Bersamaan dengan itu, timbul rash/ ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/ blister yang kecil dan rata), dan papulovesikel yang tidak gatal di telapak tangan dan kaki. “Penyakit Flu Singapore sebenarnya tidak membahayakan individu. Penyakit ini bersifat self limiting diseases, yaitu dapat sembuh dengan sendirinya dalam 7-10 hari,” jelas Bu Praba mengenai sifat virus penyakit ini. Pasien memerlukan istirahat yang cukup karena daya tahan tubuhnya menurun. Sedangkan pasien yang dirawat adalah pasien dengan gejala dan komplikasi berat.
Kunci utama pencegahan penyakit ini adalah kebersihan dan sanitasi baik lingkungan maupun perorangan (personal hygiene). Misalnya, membiasakan mencuci tangan terutama setelah berdekatan dengan penderita, desinfeksi peralatan makanan, mainan, handuk yang memungkinkan terkontaminasi. Bila perlu anak tidak bersekolah selama satu minggu setelah timbul rash sampai panas hilang. Pasien sebenarnya tidak perlu diasingkan karena ekskresi virus tetap berlangsung beberapa minggu setelah gejala hilang. “Selain personal hygiene, perlu diadakan penyuluhan tentang pencegahan penyakit Flu Singapore kepada masyarakat luas. Informasi ini sangat penting bagi masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit Flu Singapore,” saran Bu Praba mengenai pencegahan penyakit PKTM.
Sebagai provider kesehatan, kita harus peka terhadap masalah kesehatan yang muncul dalam masyarakat. Selain itu, diperlukan pemikiran yang kritis bagi seorang mahasiswa dan penelitian ilmiah lanjutan mengenai kasus Flu Singapore demi kontribusi kepada bangsa dan negara kita. (ania-bluepen dari beberapa sumber)

Explore posts in the same categories: EDISI III/TAHUN V?MEI?2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: