Deteksi Dini Autisme

Ada apa dengan penyakit autisme? Perkembangan autism yang terjadi saat ini cukup mengkhawatirkan. Anak-anak autistik makin bertambah dari tahun ke tahun. Prevalensi autisme infantil dunia semakin meningkat sejak tahun 1980. Secara umum prevalensi autisme berkisar 1 – 2 per 1000 penduduk dengan distribusi pada laki-laki lebih banyak daripada wanita (4 : 1). Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1 : 5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1 : 160 anak. Data terbaru dari Centre for Disease Control and Prevention Amerika Serikat menyebutkan,  kini 1 dari 110 anak di sana menderita autis. Angka ini naik 57% dari data tahun 2002 yang memperkirakan angkanya 1 dibanding 150 anak. Di Indonesia, trend peningkatan jumlah anak autis juga terlihat, meski tidak diketahui pasti berapa jumlahnya karena belum ada pusat registrasi untuk autisme.

Autisme berasal dari kata auto yang berarti sendiri. Hal ini disebabkan ada kesan bahwa penyandang autisme seolah-olah hidup di dunianya sendiri. Secara umum penyandang autisme dapat dikelompokkan menurut adanya gangguan perilaku yaitu gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi, gangguan perilaku motorik, gangguan emosi dan sensorik.

“Autisme adalah gangguan perilaku yang luas dan berat (pervasif), mencakup bidang komunikasi, interaksi sosial, perilaku motorik, emosi dan persepsi sensoris. Autisme adalah gangguan yang sangat kompleks pada anak yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai umur 3 tahun”, ujar Ibu S.A Nugraheni, selaku dosen Gizi FKM Undip yang melakukan riset pada anak autisme. Gejala anak autisme sangat bervariasi. Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya. Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) telah merumuskan suatu kriteria yang harus dipenuhi untuk dapat menegakkan diagnosis autisme. Rumusan ini dipakai di seluruh dunia dan dikenal dengan sebutan International Classification of Disease- 10 (ICD-10) 1993. Rumusan diagnostik lain juga dipakai di seluruh dunia untuk menjadi panduan diagnosis adalah yang disebut Diagnosis and Statistic Manual (DSM-IV) 1994 yang dibuat oleh grup psikiatri dari Amerika.

“Berbicara tentang autisme ibarat memasuki rimba belantara yang tak terbatas, tidak bertepi, dan penuh misteri. Karena sampai saat ini penyebab autisme belum dapat diketahui dengan pasti sehingga dunia kedokteran belum menemukan obat, terapi, dan penanganan yang tepat untuk autisme. Berbagai teori yang dikemukakan antara lain teori psikososial, gangguan neuroanatomi dan biokimiawi otak. Secara garis besar, faktor penyebab autisme dapat dikelompokkan menjadi faktor genetik, faktor perinatal, dan gangguan biokimiawi otak, neuroanatomi dan metabolisme,” ungkap Ibu S.A Nugraheni dalam bukunya yang berjudul ‘Sekilas tentang Belantara Autisme’.

Penderita autis terlihat sangat tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Kini beberapa peneliti menemukan penyebab kenapa penderita autis harus berjuang keras dalam lingkungan sosialnya. Peneliti dari University of Cambridge yang melakukan penelitian dengan scan otak yang canggih menemukan bahwa ada bagian otak penderita autis yang memang tidak mengenali kesadaran tentang dirinya sendiri. Akibatnya, jangankan untuk berkomunikasi, untuk mengenali kesadaran terhadap pribadinya saja, penderita sudah kesulitan.

Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang. Tidak semua individu ASD (Autism Spectrum Disorder) memiliki IQ yang rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu seperti musik, matematika, dan menggambar.

Autisme ditemukan pada 2,5 – 3 % saudara dari penyandang autis, jumlah yang lebih tinggi dibandingkan populasi anak normal. Dari 46 anak penyandang autisme yang didiagnosis di Pusat Pengkajian dan Pengamatan Tumbuh Kembang Anak (PPTKA) di yogyakarta dari tahun 1992 sampai 2000 didapatkan dua orang anak kakak beradik. Penelitian pada anak kembar menunjukkan kejadian autisme untuk kembar satu telur sebanyak 36 – 89% sedangkan pada kembar dizygot menunjukkan rate 0%. Kemudian ditemukan kelainan kognitif pada saudara yang tidak autis dan gangguan perinatal pada kembar autis. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa autisme disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan gangguan perinatal.

Menurut Faradz, insiden autisme akan meningkat pada keluarga yang memiliki riwayat autisme. Hal ini menunjukkan adanya keterlibatan interaksi gen yang kompleks. Autisme secara klinik dan genetik merupakan kondisi yang heterogen, 10 – 25 % dari pasien autis muncul denagn kelainan medis lain terutama pada sindrome fragile-x dan tuberous sclerosis.

Diagnosa ditegakkan secara murni secara klinis tanpa dengan alat pemeriksaan atau bantuan apa pun. Sebelum tiga tahun diagnosa sudah harus ditegakkan. Deteksi dari permulaan gejala sudah bisa dilakukan jauh sebelum umur tiga tahun. Ada anak yang sudah menunjukkan gejala autisme sejak lahir, tetapi ada anak yang sudah berkembang secara normal namun kemudian berhenti berkembang, kehilangan kepandaian yang telah dicapainya dan timbul gejala-gejala autisme.

Sebagian besar pakar percaya bahwa faktor pencetus autisme terjadi pada masa kehamilan atau pada bulan-bulan awal kehidupan bayi. Usia ibu yang terlalu tua saat hamil, atau paparan lingkungan yang dialami bayi (pola makan atau terjadinya infeksi pada bayi) diduga berpengaruh besar pada timbulnya autis.

Bila gejala autisme dapat dideteksi sejak dini lalu dilakukan penanganan yang tepat dan intensif, akan membantu anak autis untuk berkembang secara optimal. Untuk dapat mengetahui gejala autisme sejak dini, telah dikembangkan suatu checklist yang dinamakan M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers). Berikut tujuh pertanyaan dalam checklist deteksi dini autisme:

  1. Apakah anak tertarik bermain dengan anak-anak lain?
  2. Apakah anak dapat menunjuk untuk memberitahu ketertarikannya pada sesuatu?
  3. Apakah anak pernah membawa suatu benda untuk diperlihatkan pada orangtua.
  4. Apakah anak dapat meniru tingkah laku orang tua?
  5. Apakah anak berespon bila dipanggil namanya?
  6. Bila anda menunjuk mainan dari jarak jauh, apakah anak akan melihat ke arah mainan tersebut?
  7. Apakah anak bisa bermain fantasi atau bersandiwara?

Sejauh ini, pemerintah belum mampu menyediakan pusat-pusat terapi bagi penyandang autisma secara optimal. Tempat-tempat pelayanan terapi masih dikelola pihak swasta dengan biaya cukup mahal. Padahal, sebagian besar penyandang autisme butuh sejumlah terapi untuk mengatasi gangguan perkembangan, terutama kemampuan komunikasi.

Para ahli berpendapat bahwa terapi perkembangan terpadu sebaiknya langsung dilakukan begitu anak didiagnosa autis. Dengan terapi terpadu, diharapkan kemampuan anak dalam bersosialisasi dan berkomunikasi akan meningkat.  Kerjasama yang erat antara orang tua, terapis, dokter, psikolog, serta guru di sekolah diperlukan agar penanganan anak autis bisa lebih baik lagi. ^bluepen dari berbagai sumber^

Explore posts in the same categories: majalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: