Realisasi Program 100 Hari Menteri Kesehatan

Tanggal 28 Januari 2010 sejumlah aktivis mahasiswa melakukan aksi serempak yang dilakukan di Ibukota. Mereka mengevaluasi program 100 hari SBY – Boediono, kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Tradisi program kerja 100 hari presiden baru dikenal semenjak masa reformasi. Seratus hari atau tiga bulan adalah waktu yang cukup singkat. Namun banyak pihak yang menantikan keberhasilan program 100 tersebut.
Endang Rahayu Sedyaningsih selaku Menteri Kesehatan yang menggantikan tugas Siti Fadilah Supari di kabinet sebelumnya, meluncurkan empat program 100 hari sebagai berikut:
1.    Pemenuhan hak setiap individu untuk mendapatkan palayanan kesehatan dengan program jaminan kesehatan masyarakat dan sebagainya.
2.    Peningkatan kesehatan masyarakat melalui percepatan dan pencapaian target Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs), yaitu mengurangi angka kematian bayi, angka kematian ibu melahirkan, dan sebagainya.
3.    Pencegahan dan penularan penyakit menular dan akibat bencana.
4.    Pemerataan dan distribusi tenaga kesehatan di daerah terpencil, kepulauan, perbatasan, dan daerah tertinggal.
Program 100 hari tersebut memang dipersiapkan Menkes sebagai langkah awal dalam menyongsong program Indonesia Sehat 2010 dan MDGs 2015. Dalam program beliau ini akan lebih ditekankan pada upaya preventif dan kuratif. Menurut penuturan beliau dalam sebuah surat kabar nasional, kegiatan yang bersifat preventif dan promotif bakal lebih mendapat porsi tambahan dibanding kebijakan menteri kesehatan sebelumnya yang lebih mengedepankan berbagai kegiatan kuratif. Bagaimana tanggapan tentang pelaksanaan program 100 hari menkes menurut civitas akademika FKM Undip? Hal ini terangkum dalam hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Litbang Publica Health pada 12 – 13 Januari lalu.
Dari jawaban 140 responden, diketahui bahwa sebanyak 59% mengetahui tentang keempat program 100 hari yang dicetuskan Menkes, sisanya sebanyak 41% mengaku tidak mengetahuinya. Kemudian, dari 59% itu, mayoritas hanya mengetahui dan menyebutkan tentang program pemenuhan hak setiap individu untuk mendapatkan palayanan kesehatan dengan program jaminan kesehatan masyarakat dan peningkatan kesehatan masyarakat melalui percepatan dan pencapaian target MDGs, yaitu mengurangi angka kematian bayi, angka kematian ibu melahirkan, dan sebagainya.
Lebih dari 50% responden telah mengetahui program 100 hari Menkes. Apakah hal tersebut dapat terbilang baik? Mari kita cermati point pertama dalam program 100 hari Menkes.  Pemenuhan hak setiap individu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan program jaminan kesehatan masyarakat dan sebagainya. “setiap individu” dalam kalimat ini merujuk pada seluruh masyarakat indonesia. Jika hampir setengah dari jumlah responden tidak mengetahuinya, menandakan bahwa masih banyak masyarakat yang belum menaruh perhatian terhadap program ini, padahal hak setiap masyarakat (dalam konteks kesehatan) dipertaruhkan di sini. Apakah ini sebuah indikasi bahwa Menkes hanya sekedar membuat program tanpa mengikutsertakan masyarakat? Untuk menyanggah pertanyaan tersebut, Menkes perlu membuktikan bahwa keempat program tersebut bukan hanya sindrom seratus hari yang dibuat untuk menunjukkan keseriusan setelah dilantik menjadi pejabat.


Hasil jajak pendapat yang selanjutnya, baik yang mengetahui atau tidak, 64%  dari 140 responden menilai apabila program 100 hari Menkes belum terlaksana dengan baik, 33%  mengatakan fifty-fifty dengan kata lain, bahwa ada sebagian program yang telah terlaksana, dan sisanya 3% mengatakan telah terlaksana dengan baik. Masih banyak masyarakat yang menilai bahwa belum ada hasil yang dirasakan dari program tersebut. Oleh karena itulah, 64% mereka yang mengatakan belum, masih pesimis akan pencapaian Program Indonesia Sehat 2010  yang dicetuskan pemerintah.
Mengenai program Jamkesmas, Menkes akan berusaha memberikan jaminan pelayanan kesehatan gratis  kepada orang-orang miskin yang tidak terdaftar, seperti gelandangan dan orang-orang di panti. Rencananya dalam 100 hari tersebut, akan dibagikan kartu kepada mereka yang belum terdaftar sehingga mereka tetap mendapatkan jaminan untuk berobat.
Sasaran lain dalam usaha pemerataan program Jamkesmas adalah masyarakat yang memiliki mata pencaharian tetap namun upah yang mereka dapat dibawah upah minimum provinsi, seperti sopir angkutan, sopir ojek, dan pembantu rumah tangga. Secara keseluruhan, Menkes berusaha memberikan pelayanan kepada 76,4 juta penduduk miskin dalam sistem jaminan kesehatan. Menkes berharap dari program ini, Jamkesmas dapat dirasakan menyeluruh oleh masyarakat Indonesia khususnya mereka yang kurang mampu sehingga sehingga kebutuhan warga akan kesehatan haknya terpenuhi. Menkes menyatakan bahwa Jamkesmas merupakan salah satu program yang dinilai sangat bagus yang dirintis oleh Menkes sebelumnya. Meski begitu, Menkes akan menyempurnakan program jamkesmas agar lebih baik lagi.
Kemudian di dalam program kedua terkait mengenai kebijakan global pembangunan kesehatan, dalam 100 hari ke depan Menkes akan terus berupaya meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha percepatan dan pencapaian program Millenium Development Goals (MDGs) Kesehatan. MDG’s Kesehatan diantaranya adalah mengurangi angka kematian bayi, meningkatkan kesehatan ibu, serta memerangi HIV / AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya.
Sebagai langkah awal pencapaian MDGs tahun 2015, aspek yang diperhatikan adalah program penurunan angka kematian bayi (AKB) dan peningkatan kesehatan ibu.  Kegiatannya meliputi peningkatan Universal Child Immunization (UCI) sebesar 98% desa di 5 provinsi Jawa (Jatim, Jabar, Banten, dan DKI Jakarta) yang merupakan 80% balita Indonesia dan meningkatkan kesehatan masyarakat perdesaan terutama melalui pemantapan fungsi Posyandu, Bidan di desa, dan KB-Kesehatan Reproduksi untuk upaya promotif dan preventif.
Program ketiga adalah program pengendalian penyakit dan penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana. Langkah-langkah yang akan ditempuh Menkes antara lain penanggulangan penyakit malaria, penanggulangan penyakit TB, HIV/ AIDS, dan upaya penanggulangan bencana alam. Terkait tentang kesehatan pasca bencana, beliau tetap berupaya meningkatkan status kesehatan para korban bencana dengan usaha peningkatan suplay air bersih di lingkungan bencana, pencegahan kelaparan akibat bencana, serta pencegahan wabah penyakit menular akibat bencana dan sanitasi yang buruk.
Sedangkan program 100 hari yang terakhir mengenai pemerataan dan distribusi tenaga kesehatan di DTPK. Dalam meluncurkan program 100 harinya, Menkes memaparkan bahwa dirinya juga akan mengupayakan ketersediaan tenaga kesehatan secara merata di seluruh daerah di Indonesia. Untuk itu, usaha konkrit yang perlu ditempuh dalam hal ini adalah penistribusian SDM kesehatan untuk daerah-daerah yang tertinggal, daerah terpencil, daerah perbatasan, dan kepulauan mengingat di daerah-daerah tersebut ketersediaan SDM kesehatan sangat terbatas. ^Abdil^

Explore posts in the same categories: majalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: