PELAYANAN PUBLIK DI LEMBAGA PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT

Drs. Syamsulhuda B. Musthofa,Mkes
(Dosen Bagian PKIP FKM Undip)

PENDAHULUAN
Pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah maupun swasta, dalam bentuk barang dan jasa baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan perundang-undangan.
Penyelenggara pelayanan publik adalah setiap institusi penyelenggara negara, korporasi, lembaga independen yang dibentuk berdasarkan undang-undang untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan publik. Oleh karena itu, Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip sebagai bagian dari institusi/lembaga pendidikan termasuk di dalam kriteria penyelenggara pelayanan publik.
Sebagai pelaksana pelayanan publik adalah pejabat, pegawai, petugas, dan setiap orang yang bekerja di dalam organisasi penyelenggara yang bertugas melaksanakan tindakan atau serangkaian tindakan pelayanan publik. Di samping itu, masyarakat adalah seluruh pihak, baik warga negara maupun penduduk sebagai orang-perseorangan, kelompok, maupun badan hukum yang berkedudukan sebagai penerima manfaat pelayanan publik, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Oleh karena itu, perlu adanya standar pelayanan, yakni tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau dan terukur sesuai kewajiban dan janji penyelenggara terhadap masyarakat.
TANTANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN
Seiring dengan perkembangan paradigma layanan terhadap masyarakat, dimana pada saat ini dirasakan tuntutan yang semakin kuat dari masyarakat agar institusi/lembaga pendidikan mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara profesional dan produktif, maka FKM Undip mulai berbenah diri agar dapat memenuhi kebutuhan yang menjadi tuntutan masyarakat tersebut. Hal ini sesuai dengan visi dan misi dari FKM Undip sendiri yakni mewujudkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas dalam aspek pelayanan publik.
Untuk meningkatkan mutu layanan, tidak cukup dengan kajian monopoli institusi pemberi pelayanan, lebih dari itu ada ukuran non teknis yaitu keinginan dan harapan pengguna pelayanan (user). Sayangnya hal ini belum dapat diaplikasikan, bahkan tidak pernah tersentuh, artinya pengguna jasa pelayanan institusi pelayanan pendidikan tak lebih sebagai obyek semata yang tak punya hak suara. Siklus demikian mestinya tidak boleh terulang.
Berdasarkan hal tersebut, hakekat pelayanan publik bagi kita adalah :
– Meningkatkan mutu dan produktivitas pelaksanaan tugas dan fungsi institusi/lembaga pendidikan di bidang pelayanan publik.
– Mendorong efektivitas sistem dan tata laksana pelayanan, sehingga pelayanan publik dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna.
– Mendorong tumbuhnya kreativitas, prakarsa, dan peran serta masyarakat dalam derap langkah pembangunan di bidang pendidikan serta dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas.
Pelayanan Publik dilaksanakan dalam suatu rangkaian kegiatan terpadu yang bersifat sederhana, terbuka, lancar, tepat, lengkap, wajar dan terjangkau. Maka dari itu, harus mengandung beberapa unsur dasar sebagai berikut :
– Hak dan kewajiban bagi pemberi maupun penerima pelayanan publik harus jelas dan diketahui secara pasti oleh masing-masing pihak.
– Pengaturan setiap bentuk pelayanan publik harus disesuaikan dengan kondisi kebutuhan dan kemampuan ekonomi masyarakat berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan tetap berpegang pada efisiensi dan efektivitas.
– Mutu proses dan hasil pelayanan publik harus diupayakan dapat memberi keamanan, kenyamanan, kelancaran dan kepastian hukum yang dapat dipertanggung jawabkan.
– Apabila pelayanan publik yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah terpaksa harus mahal, maka instansi pemerintah yang bersangkutan berkewajiban memberi peluang kepada masyarakat untuk ikut menyelenggarakannya sesuai perundang-undangan yang berlaku
Paradigma baru penyelenggaraan tata pelayanan publik ini telah membawa konsekuensi yang luas bagi lembaga pemerintah termasuk institusi/lembaga pendidikan dari tingkat pusat hingga daerah. Hal ini tercermin dari tekad penyelenggaraan yang lebih otonom dan terdesentralisasi daripada paradigma lama yang semuanya serba terpusat dan dibawah kendali langsung dari ‘Jakarta’. Konsep desentralisasi dikenal sebagai pemberian wewenang dari atasan (pemilik wewenang) kepada bawahan (pelaksana). Sementara itu, otonomi mengandung makna kemandirian. Mandiri dalam konteks ini adalah kebebasan untuk memilih yang disertai dengan kemampuan.
Berangkat dari perubahan paradigma penyelenggaraan pelayanan publik di atas, FKM sebagai salah satu ujung tombak pelayanan pemerintah kepada masyarakat perlu melakukan upaya/kiat yang jitu untuk mewujudkannya, beberapa hal yang perlu digarisbawahi menurut saya adalah sebagai berikut :
MEMULAI SECARA INTERNAL
Sesungguhnya, upaya meningkatkan mutu layanan tidaklah sulit, kembali pada nurani pelaku institusi/lembaga pendidikan sebagai niat hakiki untuk memberikan yang terbaik kepada pengguna jasa pelayanan pendidikan, baik promotif, preventif maupun rehabilitatif. Rasanya hal ini belum dilakukan secara masif. Singkatnya, memulai dari internal jajaran FKM Undip di semua tingkatan.
Sebagai contoh, ketika melaksanakan suatu kegiatan ilmiah masih melakukan mark-up, misalnya ada pengeluaran yang ”sulit” di-SPJkan, maka akan mengubah angka/harga suatu pengeluaran barang tertentu yang misal harga resminya 500 ribu tapi dalam SPJ ditulis 800 ribu, maka jangan harap ada peningkatan mutu, karena diawali dengan perilaku yang tidak bermutu bahkan tercela. Bagaimana mungkin mendapatkan buah yang baik ketika menanam benihnya sudah salah?
Jangan hanya direnungkan tetapi mutlak harus diperbaiki dari dalam. Hal yang sama berlaku dalam pelayanan yang bersifat teknis. Ketika seorang dosen institusi/lembaga pendidikan kesehatan masyarakat tidak pernah lagi membaca dan belajar untuk meng-update ilmunya, maka jangan harap ada transfer of knowledge kepada team teachingnya apalagi kepada mahasiswa. Apalagi jika di internal institusi/lembaga pendidikan kesehatan masyarakat atau masing-masing bagian hanya sibuk memperebutkan porsi anggaran yang sedikit besar dan meminimalkan kegiatan. Artinya, pelayanan dan ilmunya jalan di tempat alias stagnan. Bila hal ini terjadi maka dalam evaluasi Proses Belajar Mengajar (PBM) tidak boleh lagi ada kata “kesediaan buku di perpustakaan kurang” atau ”fasilitas internet kurang memadai” dalam bab hambatan dan kendala. Bagaimana mungkin kesadaran masyarakat terhadap kesehatan membaik bila yang berkompeten di bidang pendidikan sendiri tidak pernah belajar, dan hanya mengandalkan ilmu semasa di bangku kuliah semata, atau mereka yang jadi pejabatnya hanya bisa menjawab ”berdasarkan pengalaman …” atau ”dulu-dulunya seperti itulah …”.
Mungkin agak mirip dengan perumpamaan ini : peningkatan pendapatan asli daerah dari unit pelayanan kesehatan dijadikan indikator keberhasilan daerah, tingginya angka kunjungan pasien dan rujukan pasien juga demikian. Logikanya adalah semakin bertambah orang yang sakit maka semakin tipis manfaat pelayanan kesehatan yang diterima oleh masyarakat, dan dari sini akan muncul pertanyaan, ”Bagaimana pemanfaatan anggaran…?”
Padahal mempelajari, mengembangkan dan mengamalkan ilmu adalah kewajiban sebagai bentuk tanggung jawab intelektual dan bentuk ungkapan syukur akan ilmu yang dianugerahkan kepada kita. Maka dari itu, mutu pelayanan pendidikan sekali lagi haruslah dimulai dari internal institusi/lembaga pendidikan itu sendiri, dilandasi totalitas dan niat untuk dapat memberi manfaat kepada sesama.
MENATA NIAT
Dalam hal ini, menata niat dari sanubari untuk memberikan layanan secara totalitas dan ikhlas. Di titik inilah salah satu bagian dari sebuah mata rantai bermula. Mengawali sesuatu memang seringkali sulit, demikian pula layanan pendidikan kesehatan masyarakat yang kompleks dan melibatkan banyak hal, mulai yang teknis hingga non teknis. Kata kuncinya adalah mengalahkan diri sendiri. Ilustrasinya, di institusi layanan pendidikan, kompetensi tertinggi teknis PBM adalah seorang dosen, ingat yang dimaksud adalah kompetensi teknis mengajar bukan manajerial. Di sisi lain layanan yang bermutu dan komprehensif memerlukan juga banyak hal non teknis atau penunjangnya, termasuk manajerial, namun tetaplah berangkat dari teknis PBM. Untuk itu, seorang dosen di institusi layanan pendidikan harus yakin bahwa memberi layanan terbaik di tempat kerja tidak akan mengurangi jumlah/kapasitas ilmunya, justru yang terjadi sebaliknya, bila memberi layanan terbaik di institusi tersebut, niscaya akan lebih dikenal, dihormati dan diamalkan ilmu yang diajarkannya. Mengapa saya ungkit hal seperti ini? Jujur saja masih ada sejawat yang punya pola pikir keliru, mengajar ala kadarnya namun berharap para mahasiswa faham dan mengerti bahkan menjadi pandai. Pola pikir demikian tak ayal juga diikuti kebanyakan para dosen. Budaya demikian harus diubah total.
Setelah yakin berniat ikhlas, langkah selanjutnya adalah membuat planning matang dengan mengedepankan kepentingan khalayak, terutama mahasiswa. Artinya, kebiasaan mark-up atau istilah apapun namanya harus dihilangkan. Mulai pada PBM, pengadaan, operasional, berbagai belanja barang dan jasa, keperluan rutin, serta segala item program dalam perencanaan mutlak harus realized. Pendeknya sejak awal harus melangkah dengan benar. Bayangkan ketika dari awal sudah membuat kesalahan yang dibuat seakan-akan benar dengan membolak balik bahasa dan memanfaatkan lemahnya sistem, niscaya perbaikan mutu layanan pendidikan kesehatan masyarakat hanyalah ungkapan kosong tanpa makna. Dampaknya, masyarakat tidak mendapatkan manfaat optimal dari program pendidikan kesehatan masyarakat, apapun bentuk dan namanya.
Marilah tingkatkan kerja dan kinerja kita di FKM Undip ini, agar visi dan misinya tercapai, tidak sekedar slogan yang terpampang dengan megahnya. Bravo FKM.

Explore posts in the same categories: 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: